Langsung ke konten utama

Kami bukan Sekedar Mahasiswa Kuli Biji


Menjadi mahasiswa merupakan impian setiap siswa dan siswi, dari segi prioritas list Perguruan Tinggi favorit menjadi daftar teratas bagi mereka yang berburu nilai akreditas dan silau akan popularitas. Uhuk... Namanya juga siswa, belum paham arti MAHASISWA yang sulit dianalogikan dan diimplementasikan secara realitas dan masih diimajinasikan sesuai ideologi mereka masing-masing.

Sedikit share tentang MAHASISWA, yang dulu kata kakak tingkat artinya Siswa yang DiMAHAkan alias dibesarkan. Bukaan berarti kalau jadi mahasiswa jadi besar dan gendut lo.. Opss #curcol . . Mahasiswa sendiri mengandung makna yang beragam bagi setiap individu yang berbeda. Jika ditarik kesimpulan, mahasiswa menjadi begitu spesial jika diartikan sebagai siswa yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk lebih berkontribusi dan berusaha membangun diri dengan bidang ilmu yang sudah dipilihnya di perguruan tinggi yang sudah ditetapkan Tuhan untuknya.

Namun, betapa durhakanya mereka kepada pertiwi, jika mereka berdiam dan hanya termenung ketika Indonesia meminta AKSI dan REAKSI atas permasalahan negeri saat ini.Mereka yang hanya diam apabila diberi masalah dan diminta untuk mencari solusi terbaik dalam menyelesaikannya. Mereka yang selalu beralasan dengan tumpukan buku yang katanya senjata terbaik dari unsur pendidikan. ya... mereka yang sangat berbeda dengan pemuda pergerakan.

Ketika mengulas hal ini, selalu ada kata "memihak dan menentukan pilihan". Dimana kami memilih untuk bergerak dan mereka memilih diam tanpa ada usaha untuk memihak. Apatis sering kami menyebut katagori mereka. Selain alasan belajar, rasa takut atas resiko dan takut mengecewakan sering menjadi tameng terdepan yang mereka gunakan untuk menolak. Bukan menjadikan tenaga terbaik mereka dalam memperjuangkan kebaikan namun hanya menggunakannya dalam perjuangan yang sederhana.

Hak asasi manusia yang menghalalkan setiap orang untuk memilih sikap dalam kehidupan. Namun hanya satu kalimat yang bisa saya sarankan. Selagi kita mampu dan bisa, sumbangkan tenaga dan pikiran untuk SEDIKIT berkontribusi untuk negara dan nusantara. Setidaknya saat masa kita masih punya power yang luar biasa yaitu saat kita menjadi MAHASISWA.

"Berikan aku seribu pemuda, maka akan kogoncangkan dunia"(Ir. Soekarno)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Ibu Hebat di Abad Milenium

Cantik, anggun, dan cerdas merupakan karakter yang diidamkan. Delapan dari sepuluh laki-laki berharap hidup dan berdampingan dengan perempuan berkarakter prima. Menjadi sosok yang selalu terlihat istimewa pun merupakan mimpi kami, kaum Muhammad yang selalu terlihat lemah. Istimewa untuk suami dan keluarga adalah rangkaian doa yang selalu perempuan sampaikan, apapun agama, suku, ras, dan bangsa yang dimilikinya. Keistimewaan ini manjadi naluri alami kami untuk senantiasa memperlihatkan hal positif kepada kaum adam yang memikat hati. Tampak baik nan hipokrit sebenarnya namun inilah sifat psikologis yang tidak dapat dipungkiri lagi. Alasan mendasar saya menyampaikan perempuan sebagai objek tulisan karena saya perempuan dan banyak hal yang saya rasakan. Perasaan yang sudah sejak lama ‘kaum’ ini rasakan dari abad satu ke abad selanjutnya. Sebuah artikel luar biasa yang pernah dituliskan oleh Michel Carrouges dalam terbitan Cabiers du Sud No. 292 menuliskan latar belakang pandangan kaum ...