Sehat
menurut mereka ibarat harga yang sulit ditafsirkan. Ketika masyarakat disodori
pertanyaan tentang sanitasi saja, masih banyak diantara mereka yang berlagak
banar dan membenarkan posisi teman disampingnya. Bagi mereka kesadaran orang
lain menjadi solusi yang paling baik untuk mengatasi permasalahan kesehatan
lingkungan disekitarnya. Tetapi, pernahkan mereka menyadari bahwa kesadaran
mereka juga sangat dibutuhkan oleh lingkungan.
Dengan demikian posisi siapa yang dikatakan benar untuk menjaga kesehatan
lingkungan, diri kita sendiri ataukah orang lain?
Demikian
paradigma yang sering terjadi di masyarakat. Ketika makna menjaga kesehatan
hanya diartikan pada saat mereka ataupun orang disekitarnya sedang sakit.
Setelah sembuh, tentulah mereka kembali pada kebiasaan hidup kotor dan tidak
teratur. Pandangan dan sikap seperti inilah yang pada akhirnya membawa imbas
kepada orang lain yang hidup bersamanya. Setelah itu akan dijadikan adat yang
turun menurun kepada anak cucu mereka. Miris benar-benar miris.
Kebiasaan
acuh terhadap kondisi kesehatan lingkungan dijadikan pohon kebiasaan yang
beranak pinak menjadi kebiasaan satu darah keturunan. Kebiasaan ini seharusnya
diredam dan diperbaiki menjadi kesadaran yang lebih akan kesehatan lingkungan.
Diredamnya kebiasaan ini bukan berarti menghapuskan sepenuhnya kebiasaan kotor
pada masyarakat dan memaksakan kepada mereka untuk jadi pribadi yang bersih dan
sehat dalam jangka waktu yang cepat. Peredaman kebiasaan ini hanya dapat dilakukan
secara bertahap dan intensif kepada masyarakat dengan pendekatan-pendekatan
social yang dapat mereka mengerti. Dengan demikian, resiko munculnya dampak
social dapat dihindari.
Penanaman
pengetahuan tentang kesehatan juga perlu diberikan kepada msayarakat.
Diibaratkan mengonsumsi obat, pengetahuan tentang kesehatan dilakukan secara
bertahap dan rutin sesuai kemampuan mereka dalam menerima informasi tersebut.
Sehingga informasi kesehatan yang disampaikan dapat dimengerti dan sedikit demi
sedikit dapat menyadarkan mereka untuk concern terhadap kesehatan lingkungan
sekitar.
Jangan
pernah menganggap mereka yang tidak cinta kesehatan sebagai musuh yang harus
disadarkan dengan otot dan pemaksaan. Karena dengan menjadikan posisi mereka sebagai
tersangka, mereka semakin acuh terhadap kesehatan. Pada intinya perlakukan
mereka yang kurang cinta terhadap kesehatan lingkungan dengan cinta yang kita
miliki. Cinta untuk menyadarkan mereka dan menjadikan mereka sebagai masyarakat
Indonesia yang cinta akan kesehatan mereka dan keluarga sekitarnya.
EtosJogja_2014_Dita Wulandari
Theme : Persepsi masyarakat terhadap kesehatan
Komentar
Posting Komentar