Cantik,
anggun, dan cerdas merupakan karakter yang diidamkan. Delapan dari sepuluh
laki-laki berharap hidup dan berdampingan dengan perempuan berkarakter prima.
Menjadi sosok yang selalu terlihat istimewa pun merupakan mimpi kami, kaum
Muhammad yang selalu terlihat lemah. Istimewa untuk suami dan keluarga adalah
rangkaian doa yang selalu perempuan sampaikan, apapun agama, suku, ras, dan
bangsa yang dimilikinya. Keistimewaan ini manjadi naluri alami kami untuk
senantiasa memperlihatkan hal positif kepada kaum adam yang memikat hati.
Tampak baik nan hipokrit sebenarnya
namun inilah sifat psikologis yang tidak dapat dipungkiri lagi.
Alasan
mendasar saya menyampaikan perempuan sebagai objek tulisan karena saya
perempuan dan banyak hal yang saya rasakan. Perasaan yang sudah sejak lama
‘kaum’ ini rasakan dari abad satu ke abad selanjutnya. Sebuah artikel luar
biasa yang pernah dituliskan oleh Michel Carrouges dalam terbitan Cabiers du Sud No. 292 menuliskan latar
belakang pandangan kaum adam terhadap hawa di kehidupannya. Dengan jengkel
ditulisnya : “ Akankah nantinya tidak ada mitos tentang perempuan kecuali mitos
tentang sekumpulan tukang masak, induk semang, pelacur dan ilmuwati yang
menjalankan fungsi kesenangan dan kemanfaatan.” Kalimat ini menjelaskan makna,
bahwa dalam pandangan laki-laki, perempuan tidak memiliki eksistensi dalan dan
untuk dirinya sendiri. Laki-laki hanya berfikir tentang fungsi perempuan di
dalam dunianya. Alasan perempuan untuk eksistensi hanya ada di tangan laki-laki.
Mitos
psikologis ini benar adanya, akan tetapi mereka tidak dapat dipersalahkan.
Berdasarkan penelitian yang pernah disampaikan dalam buku Second Sex karangan Simone de Beauvour, laki-laki dengan karakter
dominan seperti ini, sebenarnya mereka dalam keadaan gelisah di depan rekan
sesama jenis yang dirasanya lebih hebat. Ya karena mereka merasa kurang tangguh
dan jantan apabila belum merendahkan kaum hawa yang secara kodrat akan selalu
lemah dengan perasaannya. Perempuan mengandalkan hati dua kali lebih dominan
daripada logika, sedangkan laki-laki memilih logika dan ego untuk
mempertahankan argumennya. Hal ini menjadi realita yang juga terlihat di mini
kehidupan manusia, kehidupan saya yang tinggal di negara ‘kaya raya’.
Saya
dengan latar belakang wanita desa yang tumbuh dan berkembang di lingkaran adat
Jawa. Lahir menjadi wanita diberkahi dengan budaya kejawen yang terkenal alus
menjadi kebanggaan pribadi. Ajaran berbudi pekerti luhur dengan tutur kata
sopan santun menjadi ilmu pertama yang Ibu dan Bapak sampaikan. Wanita yang
diharuskan menghormati orangtua, kakak tertua, tetangga tua dan juga teman desa
yang berumur tua. Selain budi pekerti, skill memasak dan bertanam menjadi
pendidikan di masa kecil saya. Berjemur dan berteman dengan matahari diwajibkan
bagi setiap wanita untuk bantu membahu kepedihan keluarga. Memperkuat hati dan
iman adalah bekal lain yang juga diharapkan dari Ibu dan Bapak untuk anak
perempuannya.
Semua yang
saya lakukan tentu terjadi atas perintah yang secara tidak langsung menekan
saya untuk terpaksa membentuk pribadi yang demikian. Kenapa saya bilang
terpaksa, karena pada dasarnya masa kecil saya sama dengan laki-laki dan wanita
lainnya. Bermain dan bersenang-senang sejak kecil sudah terganti dengan
banyaknya gemblengan pembentuk
kepribadian. Menangis, mengeluh, bahkan mengancam pernah saya sampaikan. Rasa
sedih dan sakit jelas dulu saya rasakan karena sebesar apapun badan saya, usia
tetap kecil dan butuh untuk dimanjakan. Akan tetapi, keadaan yang dulu saya
keluhkan saat ini sangat saya rindukan.
Tumbuh
dewasa dengan kodrat sebagai wanita saya alami dengan ribuan proses yang tidak
bisa saya jelaskan. Kini saya berdiri menjadi wanita yang menempuh pendidikan
di jalur yang mungkin tidak pernah saya pikirkan. Bersama adat jawa dimasa
kecil, saya mencoba menjadi wanita yang diidamkan Ibu dan Almarhum Bapak saya.
Sudah tujuh tahun berlalu dimana saya berjuang dan menjalani transisi atas
kehilangan laki-laki pertama yang saya cintai. Ayah yang pergi membentuk
karakter lain yang dulu juga saya keluhkan namun saat ini saya banggakan. Gadis
kecil yang dulu menangis hanya karena minta dibeliin TV, sejak SD sampai
sekarang berusaha mengurangi beban seorang Ibu dikehidupannya. Memasak dan
merawat adik sudah sejak kelas lima dia lakukan saat Ibu berjuang berusaha memperpanjang
nyawa suami yang dicintainya. Tangis kehilangan pun sudah menjadi bekal untuk
lebih kuat dan tegar dalam menjalani takdir Allah SWT.
Keadaan
yang mendewasakan, itu yang ingin saya sampaikan. Menjadi wanita di kampusnya para
lelaki, sudah tidak menjadi ketakutan dalam benak. Akan tetapi, yang menjadi
fokusan dalam perasan saya justru bersumber dari teman-teman perempuan di zaman
ini. Terlihat jelas bahwa perempuan zaman sekarang menuju pemulihan mitos
feminisme. Kebebasan mereka sampaikan secara terang-terangan, tapi sayang
mereka tidak sadar bahwa apapun yang mereka sampaikan mereka belum sepenuhnya
merdeka dengan keberadaaanya. Budaya melow
atas cinta-cinta yang disampaikan melalui beragam media sudah menjadi karakter
yang kaum perempuan perlihatkan. Berkumpulnya kaum hawa selalu dikaitkan dengan
kebiasaan ghibah, gunjing, dan cinta-cinta.
Kaum hawa
juga memiliki kedekatan khusus dengan yang namanya budaya narsisme. Budaya
dimana merk handpone dan kemampuan kamera menjadi hal wajib yang diperdebatkan
dengan orang tua. Secara psikologis sifat narsis pada manuasia dipandang
sebagai perwujudan tujuan absolut dengan subjek melindungi dirinya sendiri,
yang berarti perempuan saat ini kurang percaya diri atas inner capability yang secara natural mereka miliki. Keadaan ini
sangat berlawanan dengan semangat kebebasan yang R.A Kartini sampaikan puluhan
tahun yang lalu. Bebas itu percaya diri akan kemampuannya mengembangkan, bukan
bebas yang tidak berfaedah dengan tujuan menutupi ketidakpercayaan atas
kemampuannya. Bukankah sebagai perempuan di era milenium akan sangat
menguntungkan apabila dijalani dengan sesuatu yang memberikan manfaat? Kemajuan
teknologi di era ini berpotensi besar meningkatkan kemampuan seseorang yang
dengan bijak menyikapinya.
Bayangkan
ketika perempuan di abad ini menjadi seorang istri dan ibu untuk suami dan
anak-anaknya. Perempuan yang dulunya tidak bisa membaca, kelak akan menjadi ibu
cerdas yang mengajarkan anaknya pendidikan dengan bekal pengetahuan yang
melimpah diperolehnya. Perempuan yang dulunya hanya menjadi koki untuk
keluarga, kini mampu mengembangkan kodrat alaminya untuk meringankan
perekonomian keluarga. Perempuan yang dulu bersusah payah bersepeda untuk
bekerja sesudah menghantarkan putra dan putri ke gerbang cakrawala, kini dengan
mudah menggunakan kendaraan untuk melakukannya. Indah bukan masa depan yang
akan kita alami saat masing-masing dari kita sudah dipanggil ‘Ibu’ oleh si buah
hati. Akan jadi seperti apa Negara ini disaat calon Ibu peradaban lemah dan
teralihkan oleh ketidakpercayaan atas kemampuan diri? Saya rasa sudah bukan
lagi masa kita menjadi perempuan lengah dan terpedaya oleh kebahagiaan semu
virus merah jambu. Menginspirasi calon pemimpin bangsa berawal dari Ibu hebat
disampingnya. Inspirasiku untuk bangsa disaat aku mampu menjadi pribadi taat
dan cerdas sebagai ibu hebat untuk anak-anaku kelak. InsyaAllah regenarasi
cemerlang akan hadir bersamaan dengan perubahan pola pikir calon Ibu masa
depan.
Komentar
Posting Komentar