Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

JOGJA SEMRAWUT

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku, bersahabat penuh selaksa makna” Kata ‘bersahabat’,   mengingatkan kita untuk kembali mengulang kenangan Jogja di masa lalu. Jogja yang ramah, nyaman, damai dan sejahtera. Jogja ramah dengan semua penduduknya. Jogja nyaman dengan banyaknya ruang terbuka dan Jogja damai dengan jaminan keamanan yang mengsejahterakan masyarakatnya.   Namun kini semua kata indah hilang saat kita berkunjung ke Yogyakarta.   Beberapa aspek lingkungan menjadi salah satu yang menyebabkan hilangnya keindahan di Yogyakarta. Meningkatnya kapasitas kendaraan menjadi penyebab dari kemacetan di Yogyakarta. Dibangunnya banyak gedung bertingkat dan hotel berbintang menjadikan Jogja daerah pusat ekonomi yang padat akan hiruk pikuk   kegiatan masyarakatnya. Asap kendaran pribadi maupun umum yang lalu lalang di jalan raya menjadikan Yogyakarta tampak kusam dan renta dari modernisasi zaman. Disisi lain...

Ibarat Obat dan Otot yang Jauh Berbeda

Sehat menurut mereka ibarat harga yang sulit ditafsirkan. Ketika masyarakat disodori pertanyaan tentang sanitasi saja, masih banyak diantara mereka yang berlagak banar dan membenarkan posisi teman disampingnya. Bagi mereka kesadaran orang lain menjadi solusi yang paling baik untuk mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan disekitarnya. Tetapi, pernahkan mereka menyadari bahwa kesadaran mereka   juga sangat dibutuhkan oleh lingkungan. Dengan demikian posisi siapa yang dikatakan benar untuk menjaga kesehatan lingkungan, diri kita sendiri ataukah orang lain? Demikian paradigma yang sering terjadi di masyarakat. Ketika makna menjaga kesehatan hanya diartikan pada saat mereka ataupun orang disekitarnya sedang sakit. Setelah sembuh, tentulah mereka kembali pada kebiasaan hidup kotor dan tidak teratur. Pandangan dan sikap seperti inilah yang pada akhirnya membawa imbas kepada orang lain yang hidup bersamanya. Setelah itu akan dijadikan adat yang turun menurun kepada anak cucu...

Kami bukan Sekedar Mahasiswa Kuli Biji

Menjadi mahasiswa merupakan impian setiap siswa dan siswi, dari segi prioritas list Perguruan Tinggi favorit menjadi daftar teratas bagi mereka yang berburu nilai akreditas dan silau akan popularitas. Uhuk... Namanya juga siswa, belum paham arti MAHASISWA yang sulit dianalogikan dan diimplementasikan secara realitas dan masih diimajinasikan sesuai ideologi mereka masing-masing. Sedikit share tentang MAHASISWA, yang dulu kata kakak tingkat artinya Siswa yang DiMAHAkan alias dibesarkan. Bukaan berarti kalau jadi mahasiswa jadi besar dan gendut lo.. Opss #curcol . . Mahasiswa sendiri mengandung makna yang beragam bagi setiap individu yang berbeda. Jika ditarik kesimpulan, mahasiswa menjadi begitu spesial jika diartikan sebagai siswa yang beruntung mendapatkan kesempatan untuk lebih berkontribusi dan berusaha membangun diri dengan bidang ilmu yang sudah dipilihnya di perguruan tinggi yang sudah ditetapkan Tuhan untuknya. Namun, betapa durhakanya mereka kepada pertiwi, jika mereka berdi...