“Pulang ke
kotamu, ada setangkup haru dalam rindu, masih seperti dulu, tiap sudut
menyapaku, bersahabat penuh selaksa makna”
Kata
‘bersahabat’, mengingatkan kita untuk kembali
mengulang kenangan Jogja di masa lalu. Jogja yang ramah, nyaman, damai dan
sejahtera. Jogja ramah dengan semua penduduknya. Jogja nyaman dengan banyaknya
ruang terbuka dan Jogja damai dengan jaminan keamanan yang mengsejahterakan
masyarakatnya.
Namun kini semua kata indah hilang saat kita berkunjung
ke Yogyakarta. Beberapa aspek lingkungan
menjadi salah satu yang menyebabkan hilangnya keindahan di Yogyakarta. Meningkatnya
kapasitas kendaraan menjadi penyebab dari kemacetan di Yogyakarta. Dibangunnya banyak
gedung bertingkat dan hotel berbintang menjadikan Jogja daerah pusat ekonomi
yang padat akan hiruk pikuk kegiatan
masyarakatnya. Asap kendaran pribadi maupun umum yang lalu lalang di jalan raya
menjadikan Yogyakarta tampak kusam dan renta dari modernisasi zaman. Disisi
lain dari kerusakan ini, adanya kebijakan pemerintah tentang target kenaikan
pembangunan 7% setiap tahunnya akan
dijadikan alasan untuk membenarkan kesemrawutan yang terjadi di Yogyakarta. Kebijakan
yang awalnya dirasa baik untuk kemajuan sector ekonomi menjadi sangat tidak
relevan jika tidak disertai dengan kebijakan yang berfungsi untuk mereduksi
dampak kerusakan terhadap lingkungan dan terhadap kegiatan social yang berjalan
di dalamnya.
Memang
sulit dan sangat kompleks jika aspek ekonomi pembangunan dan lingkungan
diaplikasikan dalam hal yang sama. Akan ada keuntungan dan kerugian yang
menyertai kebijakan yang diambil. Tetapi setidaknya kedua aspek tersebut harus
dipertimbangkan secara balance agar Yogyakarta tetap menjadi istimewa seperti
tempo dulu. Cara menyeimbangkan kedua aspek tersebut dapat dilakukan dengan
beberapa pendekatan yang digunakan pada ilmu Geografi. Pendekatan yang
dilakukan dapat berupa pendekatan keruangan dengan memperhatikan kondisi fisik
geografis kota Yogyakarta. Selanjutnya dapat dianalisis dengan pendekatan
ekologikal yang menkaji perilaku social terhadap lingkungan yang ditempati dan
pendekatan terakhir dapat berupa pendekatan kompleks wilayah yang mencakup
keterkaitan wilayah yang mempengaruhi kondisi fisik maupun social di
Yogyakarta. Dengan demikian kebijakan yang diambil tentunya akan sedikit lebih
relevan untuk mengkombinasikan aspek ekonomi pembangunan dan lingkungan.
Selain
penanganan secara preventif, penataan ulang kota Yogyakarta menjadi sangat diperlukan
untuk saat ini. Dengan perubahan beberapa spot public area akan menjadikan
Yogyakarta menjadi lebih rapi dan tertata. Selain itu penerapan kebijakan
pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan letak geografis akan menjadi
sangat penting dalam peningkatan kualitas kota Yogyakarta. Sehingga diharapkan,
Jogja yang sekarang kembali menjadi Jogja yang dulu dengan kemajuan ekonomi
yang lebih modern dan lebih maju.
Dita
Wulandari
Komentar
Posting Komentar