Berikan aku 10 pemuda, maka akan aku goncangkan dunia." (Ir. Soekarno)
Begitu apa yang disampaikan salah satu pahlawan dan proklamator NKRI. Terdengar hebat dan kuat saat imajinasi mengantarkanku ke masa lalu. Masa dimana kata 'maha' yang kusandang saat ini memiliki harga dan makna pergerakan. Maha yang cerdas, jelas dan tepat dalam melangkah. Maha yang iklas dalam niat dan tujuan hanya untuk satu harga mati yaitu Indonesia yang Merdeka. Maha yang bekerja bukan untuk kedudukan ataupun kehebatan di mata orang lain.
.
.Hhe ... Berat ya.. Abaikan renungan diatas. Intinya di hari Kesaktian Pancasila ini, saya selaku penyandang kata 'maha' mencoba intropeksi. Sering saya berkomentar terkait kepemimpinan orang lain, dan ketika saya menjalani ternyata tidak semudah teori yang dulu saya sampaikan. Pada dasarnya ingatlah bahwa lebih kurangnya suatu kepemimpinan harus dipandang secara imbang. Jangan merasa ideologi dan kata 'idealismu' sebagai standar. Ingat! Tragedi G30S PKI pernah ada hanya karena satu ideologi di hidup matikan. Jangan sampai ada perulangan masa dimana kini background agama yang jadi kambing hitam diatas segalanya.
.
.Untukmu penyandang 'maha', jangan lupa bahagia. Belajar yang rajin yuk, untuk apa yang kita sampaikan dan untuk apa yang kita perjuangkan.
Cantik, anggun, dan cerdas merupakan karakter yang diidamkan. Delapan dari sepuluh laki-laki berharap hidup dan berdampingan dengan perempuan berkarakter prima. Menjadi sosok yang selalu terlihat istimewa pun merupakan mimpi kami, kaum Muhammad yang selalu terlihat lemah. Istimewa untuk suami dan keluarga adalah rangkaian doa yang selalu perempuan sampaikan, apapun agama, suku, ras, dan bangsa yang dimilikinya. Keistimewaan ini manjadi naluri alami kami untuk senantiasa memperlihatkan hal positif kepada kaum adam yang memikat hati. Tampak baik nan hipokrit sebenarnya namun inilah sifat psikologis yang tidak dapat dipungkiri lagi. Alasan mendasar saya menyampaikan perempuan sebagai objek tulisan karena saya perempuan dan banyak hal yang saya rasakan. Perasaan yang sudah sejak lama ‘kaum’ ini rasakan dari abad satu ke abad selanjutnya. Sebuah artikel luar biasa yang pernah dituliskan oleh Michel Carrouges dalam terbitan Cabiers du Sud No. 292 menuliskan latar belakang pandangan kaum ...
Komentar
Posting Komentar